PEREKONOMIAN INDONESIA
DIBUAT OLEH
Nama : Taufika
Aristya Putri
Kelas : 1EB34
NPM : 2A214680
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Industri
adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barangsetengah
jadi atau barang jadi menjadi barang yang bermutu tinggi dalam penggunaannya, termasuk
kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri. Dengan demikian, industri merupakan
bagian dari proses produksi. Bahan-bahan industri diambil secara langsung
maupun tidak langsung kemudian diolah, sehingga menghasilkan barang yang
bernilai lebih bagi masyarakat. Kegiatan proses produksi dalam
industri itu disebut dengan perindustrian.
Sedangkan
industrialisasi adalah suatu proses perubahan sosial ekonomi yang mengubah sistem
pencaharian masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Industrialisasi
juga bisa diartikan sebagai suatu keadaan dimana masyarakat berfokus pada
ekonomi yang meliputi pekerjaan yang semakin beragam (spesialisasi), gaji dan
penghasilan yang semakin tinggi. Industrialisasi adalah bagian dari proses
modernisasi dimana perubahan sosial dan perkembangan ekonomi erat
hubungannya dengan inovasi teknologi.
Secara
Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1988 menggariskan bahwa
kebijaksanaan pembangunan diarahkan untuk selalu bertumpu pada Trilogi
Pembangunan, yakni pemerataan pembangunan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas
nasional. Kebijaksanaan neraca pembayaran sebagai bagian dari kebijaksanaan
pembangunan selalu mengacu pada Trilogi Pembangunan tersebut secara serasi. Di
samping itu juga diusahakan tercapainya perubahanfundamental dalam struktur
produksi dan perdagangan luar negeri sehingga dapat meningkatkan ketahanan
ekonomi Indonesia terhadap guncangan-guncangan, baik di dalam maupun di luar
negeri.
Di
bidang perdagangan, melalui deregulasi dan debirokrati-sasi, kebijaksanaan
ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas industri dalam negeri,
menunjang pengembanganekspor non migas, memelihara kestabilan harga dan
penyediaan barang yang dibutuhkan di dalam negeri, serta menunjang iklim usaha
yang makin menarik bagi penanaman modal. Kebijaksanaan neraca pambayaran
lainnya juga dilanjutkan, antara lain dalam bentuk pengelolaan hutang dan
pinjaman luar negeri secara cermat dan hati-hati, terpeliharanya kurs valuta
asing yang mantap dan realistis, serta terpeliharanya cadangan devisa yang
memadai.
1.2
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang dmaka dapat di rumuskan masalah antara lain, yaitu :
a. Apa konsep dan tujuan dari Industrialisasi?
b. Apa saja faktor - faktor pendukung
Industrialisasi?
c. Apa yang menjadi permasalahan Industrialisasi?
d. Bagaimana strategi pembangunan pada sektor
industri?
e. Bagaimana data statistik PDB?
f.
Apa yang dimaksud
dengan Neraca Pembayaran, Modal, dan Utang Luar Negri?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini
adalah untuk memberikan, menambah wawasan bagi penulis dan pembaca, sehingga
lebih memahami, mengetahui tentang pembahasan tersebut. Dan makalah ini dibuat
untuk menyelesaikan tugas dari mata kuliah Perekonomian Indonesia yaitu mata
kuliah Softskill.
BAB II
INDUSTRIALISASI
2.1 Konsep dan Tujuan Industrialisasi
Pengertian
industri sangat lah luas, yaitu menyangkut semuakegiatan manusia dalam bidang
ekonomi yang sifatnya produktif dan komersial. Karenamerupakan kegiatan ekonomi
yang luas maka jumlah dan macam industri berbeda-bedauntuk tiap negara atau
daerah. Pada umumnya, makin maju tingkat perkembangan perindustrian di suatu
negara aau daerah, makin banyak jumlah dan macam industri dan makin
kompleks pula sifat kegiatan dan usaha tersebut.
Sedangkan
industrialisasi adalah suatu proses perubahan sosial ekonomi yang mengubah sistem
pencaharian masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Industrialisasi
juga bisa diartikan sebagai suatu keadaan dimana masyarakat berfokus pada
ekonomi yang meliputi perkerjaaan yang semakin beragam (spesialisasi), gaji dan
penghasilan yang semakin tinggi. Industrialisasi adalah bagian dari proses
modernisasi dimana perubahan sosial dan perkembangan ekonomi erat
hubungannya dengan inovasi teknologi.
Dalam
sejarah pembangunan ekonomi, konsep industrialisasi berawal dari revolusi
industri pertama pada pertengahan abad 18 di Inggris dengan penemuan metode
baru untuk pemintaan dan penenunan kapas yang menciptakan spesialisasi dalam
produksi dan peningkatan produktivitas dari factor produksi yang digunakan.
Setelah itu, inovasi dan penemuan baru dalam pengolahan besi dan mesin uap yang
mendorong inovasi dalam pembuatan antara lain besi baja, kereta api dan kapal
tenaga uap.
Revolusi
industri kedua akhir abad 18 dan awal abad 19 dengan berbagai perkembangan
teknologi dan inovasi membantu laju industrialisasi. Setelah PD II muncul
berbagai teknologi baru seperti produksi masal dengan menggunakan assembly
line, tenaga listrik, kendaraan bermotor, penemuan barang sintetis dan revolusi
teknologi komunikasi, elektronik, bio, computer dan penggunaan robot.
Pada
akhir abad 18 sampai 19, Asia Timur adalah salah satu daerah yang paling
ekonomis sukses dunia – dengan negara-negara pasar bebas seperti Hong Kong yang
secara luas dilihat sebagai model untuk yang lain, negara-negara kurang
berkembang di seluruh dunia untuk meniru. negara pertama yang industrialise
adalah Inggris selama Revolusi Industri. Asia Timur adalah salah Satu Daerah
Yang pagar sukses Ekonomi Dunia pasar Negara-Negara Pembongkaran Hong Kong
Secara Luas dilihat sebagai model untuk Yang lain, Kurang mengembangkan Negara
di seluruh Dunia meniru.
Industrialisasi
dalam arti sempit menggambarkan penggunaan secara luas sumber-sumber tenaga
non-hayati, dalam rangka produksi barang atau jasa. Meskipun definisi ini
terasa sangat membatasi industrialisasi tidak hanya terdapat pada pabrik atau
manufaktur, tapi juga bisa meliputi pertanian karena pertanian tidak bisa lepas
dari mekanisasi (pemakaian sumber tenaga non-hayati) demikian pula halnya dengan
transportasi dan komunikasi. Industrialisasi merupakan salah satu strategi
jangka panjang untuk menjamin pertumbuhan ekonomi. Hanya beberapa Negara dengan
penduduk sedikit & kekayaan alam melimpah yang ingin mencapai pendapatan
yang tinggi tanpa industrialisasi.
Tujuan
pembangunan industri nasional baik jangka menengah maupun jangka panjang
ditujukan untuk mengatasi permasalahan dan kelemahan baik di sektor industri
maupun untuk mengatasi permasalahan secara nasional, yaitu :
(1) Meningkatkan
penyerapan tenaga kerja industri.
(2) Meningkatkan
ekspor Indonesia dan pember-dayaan pasar dalam negeri.
(3) Memberikan
sumbangan pertumbuhan yang berarti bagi perekonomian.
(4) Mendukung
perkembangan sektor infrastruktur.
(5) Meningkatkan
kemampuan teknologi.
(6) Meningkatkan
pendalaman struktur industri dan diversifikasi produk.
(7) Meningkatkan
penyebaran industri.
2.2 Faktor
Pendorong
a. Kondisi dan
struktur awal ekonomi dalam negara
Negara yang
awalnya memiliki industri dasar/primer/hulu seperti baja, semen, kimia, dan
industri tengah seperti mesin alat produksi akan mengalami proses
industrialisasi yang relatif lebih cepat. Hal ini dikarenakan jika sudah
terdapat berbagai industri hulu dan menengah yang kuat, maka otomatis negara
yang bersangkutan akan lebih mudah untuk membangun industri hilir dengan
tingkat diversifikasi produksi yang tinggi jika dibandingkan dengan
negara-negara yang belum mempunyai industri hulu dan menengah.
b. Besarnya
pasar dalam negeri
Ditentukan
oleh kombinasi antar populasi dan tingkat pendapatan nasional riil per kapita.
Besar pangsa pasar DN yang ditentukan oleh tingkat pendapatan dan jumlah
penduduk. Misalnya, Indonesia dengan 200 juta orang menyebabkan pertumbuhan
kegiatan ekonomi, karena pasar yang besar menjamin adanya skala ekonomis dan
efisiensi dalam proses produksi (asumsi: faktor penentu lainnya cukup
mendukung).
c. Ciri
industrialisasi
Yaitu cara
pelaksanaan industrialisasi seperti tahap implementasi, jenis industri unggulan
dan insentif yang diberikan, termasuk di dalamnya adalah insentif kepada
investor.
d. Kondisi dan
keberadaan Sumber Daya Alam (SDA)
Negara dengan
SDA yang besar cenderung lebih lambat dalam industrialisasi, karena tingkat
diversifikasi dan laju pertumbuhan eknominya relatif rendah.
e. Kebijakan dan
strategi pemerintah, seperti tax holiday, bebas bea
masuk untuk bahan baku impor, pinjaman dengan suku bunga yang relatif rendah.
f.
Kemampuan teknologi dan inovasi
2.3 Permasalahan Industrialisasi
A. Keterbatasan
Teknologi dan SDM
Kualitas SDM
dapat diukur dengan tingkat rata-rata pendidikan dari angkatan kerja atau
masyarakat dari golongan umur produktif, yaitu 15-65 tahun. Jika pekerja
yang tidak/belum sekolah digabungkan dengan pekerja yang tidak tamat SD, maka
data BPS menunjukkan bahwa sebagian besar dari jumlahaangkatan kerja di
Indonesia hanya berpendidikan rendah.
Kualitas SDM
dapat juga diukur dengan lamanya sekolah atau rata-rata tahun pendidikan yang
dialami masyarakat dari kategori umur tertentu di negara tersebut. Hill(2002)
menunjukkan bahwa rata-rata tahun pendidikan yang dialami oleh masyarakat
kategori dari umur 25 tahun ke atas di Indonesia paling singkat, jika
dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, yakni masih di bawah 5 tahun.
Hal ini juga
menggambarkan bahwa jumlah pendduk Indonesia, terutama dengan diploma
pendidikan tinggi di atas sarjana (S1) lebih sedikit dibanding dengan
negara-negara Asia lainnya. Rendahnya kualitas SDM di Indonesia salah satunya
disebabkan oleh terbatasnya dana pendidikan yang disediakan oleh pemerintah.
B.
Masalah Struktural dan Organisasi
Kelemahan struktural
Basis ekspor dan pasar masih sempit,
walaupun Indonesia mempunyai banyak sumber daya alam (SDA) dan tenaga kerja
(TK), tapi produk dan pasarnya masih hanya terkonsentrasi pada:
·
Terbatas pada empat produk (kayu lapis,
pakaian jadi, tekstil dan alas kaki).
·
Pasar tekstil dan pakaian jadi terbatas pada
beberapa negara, yaitu Amerika, Kanada, Turki dan Norwegia.
·
Amerika, Jepang dan Singapura mengimpor 50%
dari total ekspor tekstil dan pakaian jadi dari Indonesia.
·
Produk penyumbang 80% dari ekspor manufaktur
Indonesia masih mudah terpengaruh oleh perubahan permintaan produk di
pasar terbatas.
·
Banyak produk manufaktur terpilih padat karya
yang mengalami penurunan harga karena munculnya para pesaing baru, seperti Cina
dan Vietnam.
·
Produk manufaktur tradisional menurun daya
saingnya sebagai akibat faktor internal, seperti tuntutan kenaikan upah.
Kelemahan
organisasi:
·
Ketergantungan impor sangat tinggi.Pada 1990,
Indonesia menarik banyak PMA untuk industri berteknologi tinggi, seperti kimia,
elektronik, dan otomotif. Namun, proses penggabungan, pengepakan dan assembling
masih dengan hasil:
a.
Nilai impor bahan baku, komponen dan input
perantara masih tinggi diatas 45%.
b.
Industri padat karya, seperti tekstil, pakaian
jadi dan kulit bergantung kepada impor bahan baku, komponen dan input perantara
juga masih relatif tinggi.
c.
PMA sektor manufaktur masih bergantung kepada
suplai bahan baku dan komponen dari luar negeri.
d.
Peralihan teknologi (teknikal, manajemen,
pemasaran, pengembangan organisasi dan keterkaitan eksternal) dari PMA masih
sangat terbatas.
e.
Pengembangan produk dengan merek sendiri dan
pembangunan jaringan pemasaran masih terbatas.
·
Tidak ada industri yang berteknologi menengah.
a.
Kontribusi industri berteknologi menengah
(logam, karet, plastik, semen) terhadap pembangunan sektor industri manufaktur
yang menurun tahun 1985 -1997.
b.
Kontribusi produk padat modal (material dari
plastik, karet, pupuk, kertas, besi dan baja) terhadap ekspor menurun
1985-1997. Produksi produk dengan teknologi rendah berkembang pesat.
·
Industri kecil dan menengah masih terbelakang
produktivitas rendah, jumlah tenaga kerja masih banyak (padat karya), bukan
padat modal.
·
Kapasitas menyerap dan mengembangkan teknologi
masih lemah dikarenakan SDM yang lemah
2.4 Strategi Pembangunan Sektor Industri
Strategi
pembangunan sektor industri, dibagi menjadi dua yaitu :
1.
Strategi
Pokok
·
Memperkuat
keterkaitan pada semua tingkatan rantai nilai (value
chain) dari industri termasuk kegiatan dari industri pendukung(supporting
industries), industri terkait (related industries), industri
penyedia infrastruktur, dan industri jasa penunjang lainnya. Keterkaitan ini
dikembangkan sebagai upaya untuk membangun jaringan industri (networking) dan
meningkatkan daya saing yang mendorong inovasi.
·
Meningkatkan
nilai tambah sepanjang rantai nilai dengan
membangun kompetensi inti.
·
Meningkatkan
produktivitas, efisiensi dan jenis sumber daya yang digunakan
dalam industri, dan memfokuskan pada penggunaan sumber-sumber daya
terbarukan (green product).
·
Pengembangan
Industri Kecil dan Menengah melalui (a) skema
pencadangan usaha serta bimbingan teknis dan manajemen serta pemberian
fasilitas khusus agar dapat tumbuh secara ekspansif dan andal bersaing
dibidangnya. (b) mendorong sinergi IKM dengan industri besar melalui pola
kemitraan (aliansi), dan (c) membangun lingkungan usaha IKM yang menunjang.
2.
Strategi Operasional
1.
Pengembangan Lingkungan Bisnis yang nyaman dan kondusif
·
Bekerjasama
dengan instansi terkait untuk mengembangkan Prasarana dan Sarana fisik di
daerah-daerah yang prospek industrinya potensial ditumbuhkan, antara lain
jalan, jembatan, pelabuhan, jaringan tenaga listrik, bahan bakar, jasa
angkutan, pergudangan, telekomunikasi, air bersih.
·
Mendorong
pengembangan SDM Industri, khususnya di bidang Teknik Produksi dan Manajemen
Bisnis.
·
Mendorong
pengembangan usaha jasa prasarana & sarana bisnis penunjang industri,
antara lain Kawasan Industri, Jasa R & D, Jasa Pengujian Mutu, Jasa
Rekayasa/Rancang bangun dan Konstruksi, Jasa Inspeksi Teknis, Jasa Audit, Jasa
Konsultansi Industri, Jasa Pemeliharaan & Perbaikan, Jasa Pengamanan/Security,
Jasa Pengolahan/Pembuangan Limbah, Jasa Kalibrasi, dan sebagainya.
·
Mengembangkan
kebijakan sistem insentif yang efektif, edukatif, selektif, dan atraktif.
·
Menyempurnakan
instrumen hukum untuk pengaturan kehidupan industri yang kondusif.
·
Sinkronisasi
kebijakan sektor terkait, seperti kebijakan bidang Investasi dan sektor Perdagangan.
·
Aparat
Pembina yang bersih, profesional, dan pro-bisnis dalam membina dan memberikan
pelayanan fasilitatif kepada dunia usaha, melalui ketentuan administratif yang
sederhana/mudah, dapat mencegah kecurangan dan manipulasi yang merugikan negara
dan masyarakat, dengan dampak beban yang tidak memberatkan pelaku
industri (administrative compliance costyang minimal).
2.
Fokus pengembangan industri dilakukan dengan
mendorong pertumbuhan klaster industri prioritas
Penentuan industri prioritas, dilakukan melalui analisis
daya saing internasional serta pertimbangan besarnya potensi Indonesia yang
dapat digunakan dalam rangka menumbuhkan industri. Dalam jangka panjang
pengembangan industri diarahkan pada penguatan, pendalaman dan penumbuhan klaster
pada kelompok industri : Industri Agro; Industri Alat Angkut; Industri
Telematika; Basis Industri Manufaktur; dan Industri Kecil dan Menengah
Tertentu.
·
Industri
makanan dan minuman
·
Industri
pengolahan hasil laut
·
Industri
tekstil dan produk tekstil
·
Industri
alas kaki
·
Industri
kelapa sawit
·
Industri
barang kayu (termasuk rotan dan bambu)
·
Industri
karet dan barang karet
·
Industri
Pulp dan kertas
·
Industri
mesin listrik dan peralatan listrik
·
Industri
petrokimia.
3.
Penetapan
prioritas persebaran pembangunan industri ke
daerah-daerah mendekati sumber bahan baku agar efisien yang kegiatan
industrinya belum banyak berkembang, di daerah luar Pulau Jawa khususnya di
Kawasan Timur Indonesia dan daerah perbatasan(prioritas eco-regional)
4.
Pengembangan
kemampuan inovasi khususnya di bidang Teknologi Industri dan manajemen,
antara lain melalui kegiatan Penelitian dan Pengembangan Industri (R&D),
baik di bidang teknologi proses maupun teknologi produk, serta teknologi yang
terkait erat dengan kegiatan industri (design, engineering, plant
construction, equipment fabrication).
2.5 Data Statistik PDB Tahun – Tahun Akhir
Berdasarkan Sektor dan Bandingkan Peran Sektor Industri dengan Sektor Lainnya.
Sektor
pertanian merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja tertinggi, yaitu sebesar
44,5% pada tahun 2006 (BPS). Namun demikian, kontribusi sektor pertanian dalam
Produk Domestik Bruto (PDB) hanya sebesar 13,3%. Dengan tidak seimbangnya
kontribusi PDB dan jumlah tenaga kerja yang diserap, maka tingkat produktivitas
tenaga kerja di sektor pertanian adalah yang terendah. Bandingkan dengan sektor
industri yang menyumbang 28,9% terhadap PDB nasional, namun hanya menyerap tenaga
kerja sebesar 12,1%. Sebagai akibatnya, kesejahteraan rumah tangga yang bekerja
di sektor pertanian akan lebih rendah dibanding yang bekerja di sektor
industry.
Berbagai
pertanyaan dapat dilontarkan : Apakah sektor industri yang menyerap tenaga
kerja terlalu sedikit sehingga secara residual tenaga kerja menetap di
pertanian, sehingga atau sektor pertanian yang menyerap terlalu banyak dari
yang dibutuhkan? Dengan kata lain, tingginya penyerapan tenaga kerja di sektor
pertanian merupakan prestasi atau sekedar sebagai penampung karena masuknya
tenaga kerja ke sektor pertanian tidak memiliki kriteria atau standar minimum sebagaimana
di industry.
Siapa
sebetulnya pelaku yang menyumbang kontribusi sedemikian besarnya pada
perekonomian nasional? Mereka adalah 24 juta rumah tangga petani, dari total 52
juta rumah tangga di seluruh Indonesia. Mereka adalah 40 juta pekerja di antara
90 juta pekerja di seluruh Indonesia. Yang kita tahu, mayoritas dari mereka
berlahan sempit dengan rata-rata 0,3 ha. Mereka hanyalah penggarap dari
lahan-lahan pertanian yang yang sudah dimiliki orang-orang kota. Tanpa
mengetahui dengan baik karakteristik dan siapa mereka segala subsidi dan
dukungan di sektor pertanian tidak dapat mereka nikmati. Padahal segala subsidi
dan dukungan disediakan untuk mengangkat kesejahteraan mereka.
Terlepas
permasalahan di atas, rendahnya produktivitas tenaga kerja di sektor pertanian
dipengaruhi oleh berbagai faktor. Dari sisi tenaga kerja, dipengaruhi oleh
rendahnya tingkat pendidikan dan kualitas manajemen usahatani. Rendahnya
tingkat inovasi dan penerapan teknologi telah mengakibatkan produktivitas lahan
sangat terbatas peningkatannya atau bahkan cenderung turun pada beberapa
komoditas. Kurangnya dukungan terhadap pemberdayaan petani dirasakan turut
mempengaruhi tingkat produktivitas petani. Padahal, apabila produktivitas
tenaga kerja pertanian tersebut dapat ditingkatkan maka kontribusi terhadap PDB
Nasional juga dapat meningkat, dan kesejahteraan sekitar 24 juta rumah tangga
petani di Indonesia akan meningkat pula.
Sumber
data yang digunakan dalam penyusunan Profil Tenaga Kerja Pertanian ini
diperoleh dari BPS, Departemen Pertanian, dan Bappenas serta sumber lainnya
yang relevan. Beberapa sumber data yang diperoleh diolah lebih lanjut untuk
mengetahui kondisi tenaga kerja pertanian sesuai tujuan analisis. Untuk
beberapa jenis data yang tidak tersedia, misalnya elastisitas tenaga kerja
diperoleh melalui cara analisisi data yang sudah ada, agar dapat diperoleh data
yang konsisten, terutama untuk jenis data terbaru yang dibutuhkan.
|
|
2006
|
2007
|
2008
|
2009
|
2010
|
2011
|
2012
|
2013
|
|
PDB
(dalam milyar USD) |
285.9
|
364.6
|
432.1
|
510.2
|
539.4
|
706.6
|
846.8
|
878.0
|
|
PDB
(perubahan % tahunan) |
5.5
|
6.3
|
6.1
|
4.6
|
6.1
|
6.5
|
6.2
|
5.8
|
|
PDB per Kapita
(dalam USD) |
1,643
|
1,923
|
2,244
|
2,345
|
2,984
|
3,467
|
3,546
|
3,468
|
Sumber: Bank Dunia, Dana
Moneter Internasional (IMF) dan Badan Pusat Statistik (BPS)
Seperti yang
terlihat dari tabel di atas, penurunan perekonomian global akibat krisis
ekenomi yang terjadi di akhir tahun 2000an berdampak kecil bagi perekonomian
Indonesia jika dibandingkan dengan dampak yang dialami negara lain. Tahun 2009
PDB Indonesia turun ke 4.6 persen. Ini berarti Indonesia adalah salah satu
negara dengan performa pertumbuhan PDB tertinggi di seluruh dunia pada tahun
itu (dan berada di posisi tiga di antara kelompok negara-negara G-20). Meskipun
harga-harga komoditas menurun
drastis, bursa saham pun nilainya turun, imbal hasil obligasi domestik dan
internasional cukup tinggi dan nilai tukar valuta yang melemah, Indonesia masih
mampu tumbuh secara signifikan.
Keberhasilan ini
terutama dikarenakan oleh ekspor Indonesia yang kepentingannya relatif terbatas
terhadap perekonomian nasional, kepercayaan pasar yang terus tinggi, dan
konsumsi domestik berkelanjutan yang kuat. Konsumsi domestik di Indonesia
(khususnya konsumsi swasta) berkontribusi sekitar dua pertiga bagian dari
pertumbuhan perekonomian nasional. Dengan sekitar tujuh juta penduduk masuk ke
kelas menengah tiap tahunnya, Indonesia sebenarnya menyimpan kekuatan konsumen
yang secara signifikan dapat mendorong perekonomian dan memicu peningkatan
investasi dalam dan luar negeri dari tahun 2010 dan seterusnya.
Lambannya
pertumbuhan ekonomi tahun 2013 (5.78 persen) terjadi karena kombinasi
ketidakpastian global yang parah disebabkan oleh perancangan ulang program
pembelian aset per bulan Federal Reserve sebesar USD $85 milyar (pelonggaran
kuantitatif) yang mengakibatkan arus keluar modal secara signifikan dari
negara-negara berkembang, dan kelemahan isu finansial internal: defisit
transaksi berjalan dengan rekor tertinggi, inflasi tinggi (setelah pemerintah
menaikkan harga BBM bersubsidi pada bulan Juni 2013) dan nilai tukar rupiah
yang terdepresiasi tajam. Untuk menanggulangi masalah-masalah ini dan menjaga
stabilitas keuangan negara, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan secara
signifikan, walau ini berarti pertumbuhan
ekonomi yang lebih tinggi dikorbankan.
Perkiraan
perkembangan perekonomian Indonesia di masa depan masih cukup positif tetapi
telah direvisi oleh organisasi-organisasi internasional dan pemerintah
Indonesia karena ketidakpastian global yang berkepanjangan. Masterplan Percepatan dan Perluasan
Pembangunan Ekonomi Indonesia (disingkat MP3EI) yang baru-baru
ini dikeluarkan, mencakup tahun 2011 sampai 2025, menunjuk enam sektor sebagai
koridor utama perekonomian dengan tujuan menempatkan Indonesia dalam sepuluh
besar perekonomian global pada tahun 2025. Rencana ini mengimplikasikan
investasi besar pada sektor infrastruktur - sektor
yang selama ini menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia - dan tujuan akhirnya
adalah PDB akan naik per tahunnya sebanyak delapan sampai sembilan persen.
BAB III
NERACA PEMBAYARAN
DAN TINGKAT KETERGANTUNGAN PADA MODAL ASING
3.1
Neraca
Pembayaran (Balance of Payment)
Neraca Pembayaran adalah sebuah catatan sistematis
dari semua transaksi ekonomi internasional (perdagangan, investasi, pinjaman)
yang terjadi antara penduduk dalam nengeri pada suatu negara negara dengan
penduduk luar negeri selama jangka waktu tertentu biasanya satu tahun dan biasa
dinyatakan dalam dolar AS. Tujuan neraca pembayaran adalah Untuk memberikan
informasi kepada pemerintah tentang posisi keuangan dalam hubungan ekonomi
dengan negara lain serta membantu di dalam pengambilan kebijaksanaan
moneter,fiskal, perdagangan dan pembayaran internasional.
Neraca pembayaran ini sangat berguna karena
menununjukan struktur dan komposisi transaksi ekonomi dan posisi keuangan
internasional dari suatu negara dengan begitu kita bisa mengetahui secara
terperinci. Lemabaga keuangan seperti IMF, bank dunia dan negara-negara donor
juga menggunakan pemberi bantuan keuangan kepada suatu negara. Rekening neraca
pembayaran dalam upaya mengetahui apa yang sedang berlangsung pada perdagangan
internasionla, pemerintah mengawasi transaksi anat negara yang disusun dalam
rekening neraca pembayaran. Transaksi berjalan (currrent accouunt)
Mencatat transaksi pembayaran yang muncul dari
perdangan barang dan jasa serta dari pendapatan berupa bunga, keuntungan, dan
deviden dari modal yang dimiliki di satu negara dan di investasikan di negara
lain. Neraca Pembayaran secara Keseluruhan Harus Berimbang pada nilai yang
berlaku antara dolar dan yen, para pemegang yen ingin membeli dolar lebih
banyak dari para pemegang dolar yang menginginkan yen. Akan tetapi, para
pemegang yen sesungguhnya tidak dapat membeli lebih banyak dolar dari yang bisa
dijual oleh para pemegang dolar. Disebabkan jumlah dolar yang diminta melebihi
jumlah yang ditawarkan.
Pada penjelasan di atas berlaku kaidah, bila
kita menjumlahkan semua penerimaan, maka semuanya harus sama dengan seluruh
pembayaran yang dilakukan oleh pemegang dolar.
Neraca Pembayaran
terdiri atas tiga saldo, yakni:
·
Neraca Saldo (TB)
Jumlah saldo dari neraca perdagangan (NP) yang
dimana mencatat ekspor (X) dan impor (M) barang, yang mencatat X dan M juga
terrmasuk pendapatan royalti dan bunga deposito, dan kiriman uang tenaga kerja
indonesia di luar negeri. Yakni yang mencatat transaksi keuangan internasioannl
sepihak atau tanpa melakukan kegiatan tertentu sebagai kmpensasi dari pihak
penerim. Contohnya seperti mendapat hibah atau bantuan dari luar negeri.
·
Neraca modal (CA)
Neraca yang mencatat arus modal (K) jangka
pendek dan jangka panjang yang masuk dan keluar. Berbeda dengan pencatatan pada
TB dalam CA , M modal atau arus K masuk dianggap sebagi keuntungan bagi negra
yang bersangkutan, oleh sebab itu dicatat sebagai transaksi kredit (positif)
sedangkan arus kas K keluar (kerugian) dicatat sebagai transaksi debit
(negatif)
·
Neraca Moneter (MA)
Neraca yang mencatat perubahan cadangan devisa
yang masuk dan keluar dari suatu negara dalam suatu periode tertentu yang
dicatat oleh bank centralnya, Sehingga keluar masuknya devisa tercatat dengan
jelas dan detail. Sedangkan perubahan CD atau saldo devisa yang diperoleh dari
penjumlahan saldo TB dan saldo CA, jadi bukan CD yang dicatat secara resmi,
disebut neraca cadangan (RA).
Masalah Dalam
Analisis Neraca Pembayaran
·
Seringkali
mengabaikan saling hubungan antara transaksi internasional yang satu dengan
yang lain, sehingga ketidak seimbangan dalam neraca pembayaran diasosiasikan
dengan satu transaksi saja tanpa melihat hubungannya dengan yang lain.
·
Surplus Transaksi
yang sedang berjalan sering dianggap baik, sebaliknya deficit dianggap jelek.
Fungsi Neraca
Pembayaran adalah sebagai bahan pertimbangan pemerintah dalam:
·
Mengambil
langkah-langkah dibidang ekonomi.
·
Mengambil
kebijakan dibidang moneter dan fiskal.
·
Mengetahui
pengaruh hubungan ekonomi internasional terhadap pendapatan nasional.
·
Mengambil
kebijakan dibidang politik internasional.
Komponen-Komponen
Neraca Pembayaran
Pada dasarnya
neraca pembayaran terdiri atas lima neraca bagian yang saling berhubungan,
yaitu:
·
Neraca
perdagangan.
·
Neraca jasa.
·
Neraca
hasil-hasil modal.
·
Neraca lalu
lintas modal.
·
Neraca modal
menggambarkan lalu lintas modal masuk dan keluar suatu negara, baik yang
dilakukan oleh pemerintah maupun swasta.
·
Neraca lalu
lintas moneter.
Tahapan
Neraca Pembayaran
Setiap
negara cenderung memiliki beberapa tahapan dalam neraca pembayarannya, yaitu:
·
Negara debitur
muda
Pada tahapan ini suatu negara lebih banyak
mengimpor daripada mengekspor selisih di antara keduanya ditutup melalui
pinjaman luar negeri sehingga memungkinkan negara tersebut menumpuk modal.
·
Negara debitur
madya
Pada tahapan ini neraca perdagangan suatu
negara telah surplus, tetapi pertumbuhan dividen dan bunga yang harus
dibayarkan untuk pinjaman luar negeri menjadikan saldo neraca modalnya kurang
seimbang.
·
Negara kreditur
muda
Pada tahapan ini suatu negara mengembangkan
ekspornya secara luar biasa, bahkan negara meminjamkan uang kepada
negara-negara lain.
·
Negara kreditur
madya
Pada
tahapan ini pendapatan modal dan investasi luar negeri memberikan surplus cukup
besar terhadap pos tak tampak, yang kemudian diseimbangkan dengan defisit
neraca perdagangan.
2.1 Modal Asing
Modal
asing adalah modal yang berasal dari luar perusahaan yang sifatnya sementara
bekerja di dalam perusahaan, dan bagi perusahaan yang bersangkutan modal
tersebut merupakan utang, yang pada saatnya harus di bayar kembali. Modal asing
di bagi ke dalam tiga golongan yaitu utang jangka pendek, utang jangka menengah
dan utang jangka panjang.
a. Modal Asing atau Utang Jangka Pendek
(Short-Term Debt)
Modal asing jangka pendek adalah modal asing
yang jangka waktunya paling lama satu tahun. Adapun jenis-jenis yang termasuk
ke dalam modal asing jangka pendek, yaitu :
·
Rekening Koran
Kredit rekening koran adalah kredit yang
diberikan oleh bank kepada perusahaan dengan batasan tertentu dimana perusahaan
mengambilnya tidak sekaligus melainkan sebagian demi sebagian sesuai dengan
kebutuhannya, dan bunga yang di bayar hanya untuk jumlah yang telah di ambil
saja, meskipun sebenarnya perusahaan meminjamnya lebih dari jumlah tersebut.
·
Kredit Dari
Penjual
Kredit penjual merupakan kredit perniagaan
(trade-credit) dan kredit ini terjadi apabila penjualan produk dilakukan dengan
kredit. Apabila penjualan dilakukan dengan kredit berarti bahwa penjual baru
menerima pembayaran dari barang yang dijualnya beberapa waktu kemudian setelah
barang diserahkan. Selama ini pembeli atau langganan dapat dikatakan menerima
”kredit penjual” dari penjual atau produsen. Selama waktu itupun berarti
penjual atau produsen memberikan ”kredit penjual” kepada pembeli atau
langganan. Pada umumnya perusahaan yang memberi kredit penjual adalah
perusahaan industri, sedangkan perusahaan yang menerima adalah perusahaan
perdagangan.
·
Kredit Dari
Pembeli
Kredit pembeli adalah kredit yang diberikan
oleh perusahaan sebagai pembeli kepada pemasok (supplier) dari bahan mentahnya
atau barang-barang lainnya. Di sini pembeli membayar harga barang yang
dibelinya lebih dahulu, dan setelah beberapa waktu barulah pembeli menerima
barang yang dibelinya. Selama waktu itu dapat dikatakan bahwa pembeli
memberikan ”kredit pembeli” kepada panjual/ pemasok bahan mentah atau barang dagang.
Pada umumnya kredit pembeli diberikan kepada perusahaan-perusahaan agraria yang
menghasilkan bahan dasar, dan kredit ini diberikan oleh perusahaan-perusahaan
industri yang mengerjakan hasil agraria tersebut sebagai bahan dasarnya.
·
Kredit Wesel
Kredit wesel ini terjadi apabila suatu
perusahaan mengeluarkan ”surat pengakuan utang” yang berisikan kesanggupan
untuk membayar sejumlah uang tertentu kepada pihak tertentu dan pada saat
tertentu (surat promes/ notes payables), dan setelah ditandatangani surat tersebut
dapat di jual atau diuangkan pada bank. Dari surat tersebut diperoleh uang
sebesar apa yang tercantum dalam surat utang tersebut dikurangi dengan bunga
sampai hari jatuh temponya. Dengan demikian maka ini berarti bahwa pihak yang
mengeluarkan surat utang tersebut menerima kredit selama waktu mulai
diuangkannya sampai saat dimana utang tersebut harus di bayar. Bagi bank atau
pihak yang membeli promes tersebut (pembeli kredit), surat utang tersebut
merupakan tagihan atau wesel tagih (notes receivables), dan bagi pihak yang
mengeluarkan surat utang, surat utang tersebut merupakan utang wesel (notes
payables).
b. Modal Asing atau Utang Jangka Menengah
(Intermediate-Term Debt)
Modal asing
atau utang jangka menengah adalah utang yang jangka waktunya lebih dari satu
tahun dan kurang dari 10 tahun. Bentuk utama dari kredit jangka menengah, yaitu
:
·
Term Loan
Term loan adalah kredit usaha dengan umur
lebih dari satu tahun dan kurang dari 10 tahun. Pada umumnya term loan dibayar
kembali dengan angsuran tetap selama suatu periode tertentu (amorization
payment), misalkan pembayaran angsuran dilakukan setiap bulan, setiap kuartal
atau setiap tahun. Term loan ini biasanya diberikan oleh bank dagang,
perusahaan asuransi, supplier atau manufaktur.
·
Leasing
Bentuk lain dari intermediate-term debt adalah
leasing. Apabila kita ingin memiliki suatu aktiva, tetapi hanya menginginkan
service dari aktiva tersebut, kita dapat memperoleh hak penggunaan atas suatu
aktiva itu tanpa disertai dengan hak milik, dengan cara mengadakan kontrak
leasing untuk aktiva tersebut. Dengan demikian leasing adalah suatu alat atau
cara untuk mendapatkan service dari suatu aktiva tetap yang pada dasarnya sama
seperti halnya kalau kita menjual obligasi untuk mendapatkan service dan hak
milik atas aktiva tersebut dan bedanya pada leasing tidak disertakan hak milik.
Lebih khususnya leasing adalah persetujuan atas dasar kontrak dimana pemilik
dari aktiva (lessor) menginginkan pihak lain (lessee) untuk menggunakan jasa
atas aktiva tersebut selama suatu periode tertentu. Ada tiga bentuk utama dari
leasing yaitu sale and leaseback, services leases dan financial lease.
c. Modal Asing atau Utang Jangka Panjang
(Long-Term Debt)
Utang jangka
panjang adalah utang yang jangka waktunya adalah panjang, umumnya lebih dari 10
tahun. Utang jangka panjang umumnya digunakan untuk membelanjai perluasan
perusahaan (ekspansi) atau modernisasi dari perusahaan, karena kebutuhan modal
untuk keperluan tersebut meliputi jumlah yang besar. Adapun jenis atau
bentuk-bentuk utama dari utang jangka panjang adalah:
·
Pinjaman Obligasi
(Bonds-Payables)
Pinjaman obligasi adalah pinjaman uang untuk
jangka waktu yang panjang, untuk mana si debitur mengeluarkan surat pengakuan
utang yang mempunyai nominal tertentu. Pembayaran kembali pinjaman obligasi
dapat dijalankan secara sekaligus pada hari jatuh temponya atau berangsur
setiap tahunnya. Apabila pelunasan sekaligus, maka sistem ini disebut ”shinkin
funf system” sedangkan jika secara berangsur disebut ”amortization system”. Ada
tiga macam jenis obligasi yaitu obligasi biasa, obligasi pendapatan dan
obligasi yang dapat ditukarkan.
·
Pinjaman Hipotik
(Mortgage)
Pinjaman hipotik adalah pinjaman jangka
panjang dimana pemberi uang (kreditur) di beri hak hipotik terhadap suatu
barang tidak bergerak, agar supaya bila pihak debitur tidak memenuhi
kewajibannya, barang itu dapat di jual dan dari hasil penjualan tersebut dapat
digunakan untuk menutup tagihannya.
Modal
yang dimiliki oleh negara asing, perseorangan warga negara asing, badan usaha
asing, badan hukum asing, dan atau badan hukum Indonesia yang sebagian atau
seluruh modalnya dimiliki oleh pihak asing.
·
Manfaat bagi
negara pemberi dan penerima
Seperti halnya perdagangan internasioonal,
mobilisasi K antar negara mempunyai manfaat bagi pengekspor maupun pengimpor K
tersebut. Manfaat yang dimaksud diatas dapat di jelaskan secara teoritis
sebagai berikut, ada dua negara yakni mempunyai modal yang sangat berrlimpah
(Negara A) dan negara miskin (Negara B) . ada dua buah kurva dengan tingkat
pengembaliannya yang bberbeda atau tingkat keuntungan atas 1 dolar tambahan
dinegara A dan B. Kurva tersebut berlereng menurun yang mencerminkan efisiensi
marginal I. Apabila tidak ada arus K antarnegara, keuntungan di A dan
Bmasing-mamsing adalah sebesar rA dan rB. Dari gambar tersebut jelas terlihat
bahwa terdapat keuntungan global dalam keuntungan I sampai pada akhirnya
realokasi dana I tersebut menyamakan keuntungan di kedua negara.
·
Pembiayaan
defisit tabungan-investasi (S-I Gap)
Bagi negara kita, K asing sangat diperlukan
bukan hanya untuk membiayai defisit TB (M) atau menutupi kekurangan CD, tetapi
untuk membiayai I di dalam negeri (pembentukan modal bruto domestik). Defisit
TB paling tidak harus dikompensasikan dalam jumlah yang sama oleh surplus CA
agar CD tidak berkurang. Berarti semakin besar defisit TB, semakin besar arus K
masuk yang diperlukan untuk menjaga agar CD tidak berkurang. Yang menjadi
pertanyaan sekarang ini adalah mengapa indonesia selama ini tergantung pada K
asing untuk membiayai I di dalam negeri? Dan jawabannya adalah karena dana yang
bersumb dari S lebih kecil daripada kebutuhan dana untuk I (S-I Gap).
·
Perkembangan arus
modal masuk
Data yang dipublikasikan oleh lembaga-lembaga
dunia seperti ban dunia, UNIDO dan UNCTAD menunjukan perkembangan arus I
internasional dari DCs ke LDCs sangat pesat terutama sejak akhir tahun 1980-an.
Perkembangan ini ditandai dengan peningkatan partisipasi dari investor dan
lembabga keuangan dari DDCs dipasar uang/K di lDCs. Berdasarkan data IMF, dari
tahun 1994 hingga krisis ekonomi tahun 1998 arus K swasta neto (K masuk
dikurangi K keluar) total meningkat dari sekitar 160,5 ke 122 miliar dollar AS.
Seebagian besar dari arus K swasta tersebut masuk ke lDCs, namunjumlahnya
mengalami penurunan dari 136,6 miliar dolar AS tahun 1994 menjadi 99,5 miiliar
dolar AS tahun 1998. penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan IP neto
yang cukup besar selama periode tersebut dari 85,0 ke 19,4 miliar dolar AS. Ukuran
komposisi, dan distribusi dari K eksternal yang mengalir ke lDCs semuanya
menglami pergeseran-pergesran yang fundamental dalam tiga dekade belakangan
ini, secara absolut arus K masuk resmi terus mengalami peningkatan sekama
1970aan hingga 1990aan. Namun secara relatif laju pertumbuhan arus K masuk yang
berasal dari sektor swasta, terutama dalam bantuk kredit dari bank-bank di
negara industri maju (OECD) lebih pesat. Perbedaan dalam laju pertumbuhan
tetrsebut dapat dilihat dari lebih tingginya rasio dari K asing swasta
dibandingkan K asing pemerintah terhadap PDB atau PNB. Jika dibandingkan dengan
negara-negara ASEAN yang lain, arus K asing neto (swasta dan pemerintah) ke
indonesia paling besar, tetapi sejak 1998 yaang keluar lebih besar daripada
masuk.
·
Arus Modal Resmi
Arus K resmi baik dalam bentuk pinjamana
maupun bantuan pembengunan (ODA) dari negara-negara donor secara individu atau
lewat konsorsium sperti IGGI/CGI atau dari lembaga keuangan dunia seperti IMF
dan bak dunia. Tahun 1997 jumlah K asing resmi yang diterima indonesia tercatat
sebesar 1.1 miliar dolar AS, dan tahun 1998 dan 1999 jumlahnya meningkat hingga
3,3 dan 4,2 miliar dolar AS.
3.1 Utang Luar Negri
Salah
satu komponen penting dari arus K masuk yang banyak mendapat perhatian didalam
litelatur mengenai pengembangan ekonomi di LDCs adalah ULN. Isu ini juga
menjadi penting bagi indonesia saat ini, sejak krisis ekonomi nyaris membuat
indonesia bangkrut secara finansial karena jumlah ULN nya , terutama dari
swasta sangat besar, ditambah lagi dengan ketidak mampuan sebagian besar dari
perusahaan-perusahaan dalam negeri untuk membayar kembali ULN mereka.
Tingginya
ULN dari banyak LCDs disebabkan oleh faktor-faktor berikut. Defisit TB,
kebutuhan untuk membiayai S-I gap yang negatif, tingkat inflasi yang tinggi,
dan ketidak efisiensinya struktrual didalam perekonomian mereka. Sejak
pemerintahan orde baru hingga saat ini, tingkat ketergantungan indonesia pada
pinjaman luar negeri (ULN) tidak pernah menyurut, bahkan mengalami suatu
akselerasi yang pesat sejak krisis ekonomi, kerena indonesia membuat ULN yang
baru dalam jumlah yang besar dari IMF untuk membiayai proses pemulihan ekonomi.
Ketiga
defisit tersebut yang berkaitan satu sama lainnya (Dornbusch,1980) dapat
disederhanakan dalam bentuk beberapa persamaan berikut
TB
= (X-M) + F
Di mana F =
transfer internasional atau arus modal masuk neto
S – I = Sp + Sg – I = (Sp – I ) + ( Ty-G)
Dimana S
(tabungan nasional), Sp (tabungan individu/rumah tangga dan perusahaan), Sg
(tabungan pemerintah = Ty-G)
Bagusnya
jika sebuah negara telah mencapai suatu tungkat pembangunan tertentu atau pada
fase terakhir dari proses pe,bangunan, ketergantungan neegara tersebut terhadap
pinjaman luar negeri akan lebih rendah dibandingkan dengan pperiode pada saat negara
itu baru mulai membangun.
BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Industrialisasi
Industri
adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barangsetengah
jadi atau barang jadi menjadi barang yang bermutu tinggi dalam
penggunaannya,termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.Di
Indonesia industri masih sangat ketertinggalan dari negara-negara lainnya,
bahkankalah dengan industri negara yang kecil, padahal di Indonesia potensi
untuk diadaakannya perindustrian itu sangat bagus.
Namun ada bebarapa faktor yang mempengaruhiya sepertikurangnya
SDM, kurangnya teknologi dan pendanaan dari pemerintah.
Pada
saat sekarang ini, industri di Indonesia mengalami kemajuan banyak
industri-industri kecil yang muncul.Akan tetapi, hal ini kurang tepat, karena
menimbulkan beberapa dampak yang tidak baik,karena industri-industri di
Indonesia tidak memperhatikam permasalah lingkungan terutama permasalahan
limbah yang tidak terorganisir secara baik.
Meskipun dalam upaya yangdilakukan oleh bangsa ini,
supaya perindustrian di Indonesia tidak tertinggal telah dibuatkebijakan
tentang perindustrian namun pada kenyataannya kebijakan itu belum
sepenuhnyaefektif.
Saran
Saran yang dapat saya berikan adalah supaya pemerintah lebih
memperhatikan permasalahan dalam perindustrian ini baik dalam segi
modal ataupun memikirkan bagaimana cara supaya limbah perindustrian tidak
mencemari lingkungan, dan industri yang ada dapat dikelola sesuai dengan
kebijakan yang dilaksanakan.
4.2 Neraca Pembayaran dan Tingkat Ketergantungan
pada Modal Asing
Neraca
pembayaran suatu negara adalah catatan yang sistematis tentang transaksi
ekonomi internasional antara penduduk negara itu dengan penduduk negara lain
dalam jangka waktu tertentu. Atau NPI adalah suatu catatan yang disusun secara
sistematis tentang seluruh aktivitas ekonomi yang meliputi perdagangan
barang/jasa, transfer keuangan dan moneter antara penduduk (resident) suatu
negara dan penduduk luar negeri (rest of the world) untuk suatu periode waktu
tertentu, biasanya satu tahun. Transaksi ekonomi tersebut diklasifikasikan ke
dalam transaksi berjalan, transaksi modal, dan lalu lintas moneter. Transaksi
berjalan terdiri atas ekspor ataupun impor barang dan jasa, sedangkan transaksi
modal terdiri atas arus modal sektor pemerintah ataupun swasta, baik yang
bersifat jangka pendek maupun jangka panjang. Lalu lintas moneter adalah
perubahan dalam cadangan devisa.
Dengan
demikian, neraca pembayaran memberikan gambaran arus penerimaan dan pengeluaran
devisa serta perubahan neto cadangan devisa. Sedangkan menurut Balance of
Payments Manual (BPM) yang diterbitkan oleh IMF (1993), definisi balance of
payment (BOP) atau neraca pembayaran internasional secara umum dapat diartikan adalah
suatu catatan yang disusun secara sistematis tentang seluruh transaksi ekonomi
yang meliputi perdagangan barang / jasa, transfer keuangan dan moneter antara
penduduk (resident) suatu negara dan penduduk luar negeri (rest of the world)
untuk suatu periode waktu tertentu, biasanya satu tahun.
Dari
definisi di atas dapat dikemukakan bahwa BOP (balance of payment) merupakan
suatu catatan sistematis yang disusun berdasarkan suatu sistem akuntansi yang
dikenal sebagai” double-entry bookkeeping” sehingga setiap transaksi
internasional yang terjadi akan tercatat dua kali, yaitu sebagai transaksi
kredit dan sebagai transaksi debit.
DAFTAR PUSTAKA
Tambunan,
Tulus. 2003. Perekonomian
Indonesia Beberapa Masalah Penting. Jakarta: Ghalia
Industridonesia.
https://arrizalaziz.wordpress.com/2011/03/31/industrialisasi/
https://www.academia.edu/6194328/MAKALAH_Masalah_Industrialisasi
https://candygloria.wordpress.com/2011/03/30/industrialisasi/
http://betaraubd.blogspot.com/2014/01/strategi-pembangunan-industri.html
http://www.indonesia-investments.com/id/keuangan/angka-ekonomi-makro/produk-domestik-bruto-indonesia/item253
http://anitarianijarkasih.blogspot.com/2011/04/neraca-pembayaran-dan-tingkat.html
http://dicilala.blogspot.com/2011/04/neraca-pembayaran-dan-tingkat.html
http://teguhimajinasi.blogspot.com/2011_04_01_archive.html

Halo,
BalasHapusSaya Nurliana Novi saya ingin berbagi karya Allah yang baik dalam hidup saya kepada orang-orang saya yang mencari pinjaman di Asia dan bagian lain dari kata, karena ekonomi buruk di beberapa negara.
Saat ini saya tinggal di jakarta di Indonesia. Saya seorang Janda dengan empat anak dan aku terjebak dalam situasi keuangan pada bulan Juli 2016 dan saya perlu untuk membiayai dan membayar tagihan saya
Saya adalah korban dari penipuan pemberi pinjaman 4-kredit, saya kehilangan begitu banyak uang karena saya mencari pinjaman dari perusahaan mereka. Aku hampir mati dalam proses karena saya ditangkap oleh orang-orang dari utang saya sendiri, sebelum saya dibebaskan dari penjara dan bahwa teman-teman saya menjelaskan situasi saya dan kemudian memperkenalkan saya ke sebuah perusahaan pinjaman yang ELINA JOHNSON PINJAMAN PERUSAHAAN reliabl.
Bagi orang-orang yang mencari pinjaman? Jadi Anda harus sangat berhati-hati karena banyak perusahaan pinjaman penipuan internet di sini, tapi mereka masih sangat nyata di perusahaan pinjaman palsu.
Saya mendapat pinjaman saya dari ELINA JOHNSON PINJAMAN PERUSAHAAN Rp500.000.000 sangat mudah dalam waktu 24 jam yang saya diterapkan, jadi saya memutuskan untuk berbagi pekerjaan yang baik dari Allah melalui ELINA JOHNSON PINJAMAN FIRM dalam kehidupan keluarga saya. Saya meminta nasihat Anda jika Anda membutuhkan pinjaman Anda, silakan hubungi ELINA JOHNSON PINJAMAN PERUSAHAAN. menghubungi mereka melalui email:. (elinajohnson22@gmail.com)
Anda juga dapat menghubungi saya melalui email saya di (nurliananovi96@gmail.com) jika Anda merasa sulit atau ingin prosedur untuk memperoleh pinjaman.